Dukung Cak Bayu Prasetyo untuk menjadi Cak Favorit 2013 Ketik: CNS (spasi) 17 Kirim ke 3439 (Telkomsel, Rp120/sms) http://t.co/nG5Xh52v6T -- Cak & Ning Surabaya (@CakNingSBY)
Arek PENS #Roboholic
Blog ini di dedikasikan kepada seluruh anak bangsa Indonesia di seluruh dunia, karena kita semua punya hak untuk sukses dan optimis :) apapun keadaanya!
Dukung Cak Bayu Prasetyo untuk menjadi Cak Favorit 2013 Ketik: CNS (spasi) 17 Kirim ke 3439 (Telkomsel, Rp120/sms) http://t.co/nG5Xh52v6T -- Cak & Ning Surabaya (@CakNingSBY)
Arek PENS #Roboholic
"Nak, lihatlah Allah menciptakan alam dan seisinya tanpa hal yang sia-sia. Tanpa meminta pun, Allah memberi kita hamparan pasir yang luas, agar kita semua bisa berkumpul disini rame-rame, diciptakan pula rembulan yang begitu indah untuk menemani keramaian, dan luasnya samudera untuk mempercantik sang bulan. Yakinlah nak, hanya untuk Allah-lah kita bernafas, hanya untuk Allah-lah kita beraktifitas, hanya untuk Allah-lah kita berjuang (menjalani hidup), karena itu adalah amanah dari Allah untuk kita di dunia ini. Kau tinggal pilih, mana yang kau ingin, menjadi hamparan pasir dan laut yang begitu besar dan banyak, atau menjadi sebuah rembulan yang kecil (dibanding hamparan pasir dan lautan), sederhana (berbentuk bulat), dan unik (berubah bentuk sesuai umur/tanggalnya)".
Sahabat, sekiranya umur kita tinggal beberapa menit,
tak sampai berjumpa sang fajar esok hari,
tak sempat menyapa embun di dedaunan,
Akankah malam ini kita masih mengeluh
atas apa yang mungkin tak sesuai dengan keinginan hati ini?
Padahal, jikalau kita ingat, Allah lebih paham tentang hambaNya,
dan janjiNya pun pasti. Masihkah kita kufur padaNya?
Memang, kita hanya seorang anak manusia yang tak tahu apa2,
Yang sukanya mengeluh dan kecewa,
Yang sukanya lupa akan segala karuniaNya.
Sahabat, semoga kita masih diberi kesempatan untuk mengucap syukur,
memanjatkan hamdalah, dan berjumpa esok pagi,
dengan semangat yang lebih. #MotivaSyam
"Adek-adek, karena ayah sudah tua, sudah saatnya ada yang merawatnya, selain itu, ayah juga punya harta yang melimpah, sehingga bagaimana jika seluruh harta warisnya akan diberikan pada siapa saja yang merawat ayah, mengingat kita semua tinggal jauh dari rumah ayah (karena mereka tinggal di perantauan)?" usul si sulung.
"Begini kakak-kakakku, aku mau merawat ayah, tapi aku takut perbuatanku ini tidak tulus, karena aku merawat ayah dengan mendapat imbalan harta warisnya kelak. Bagaimana kalau tidak sedikitpun harta waris ayah kelak yang akan diberikan pada siapapun yang merawatnya, karena Allah yang akan membalas tulus sang perawat itu nantinya, dan warisan itu tetap akan dibagi rata sesuai aturan Islam, dan sebagian kita wakafkan", usul si bungsu.
"Saya juga minta satu hal lagi kakak, karena saya masih terikat dinas dan bekerja di luar kota, biar ayah saya bawa ke tempat saya, karena kebetulan saya sudah punya kontrakan sendiri di dekat kantor, agar bisa fokus dengan kerja juga fokus merawat ayah, serta saya khawatir tergoda dengan harta waris ayah kalau saya tetap disini", pinta si bungsu.
Rasa rindu tak terbendung lagi setelah dapat mensyen dari mimin Pecinta Anak Yatim (PAY Suroboyo), terkait event puncak EntrePAYneurship yang akan digelar pada Sabtu (11/05) sore. Tak kurang dari sebulan, tidak bersua dengan rekan, relawan, volunter kemanusiaan, sahabat PAY Suroboyo yg unik dan asyik.
Kegiatan kesekian yang telah digelar oleh PAY Suroboyo, kali ini adalah event yang berbeda, karena relawan diminta keikhlasan dan istiqomahnya dalam mengawal rentetan schedule yang sebenarnya satu rangkaian selama tiga bulan lebih. Rasa hormat, salut, bangga saya pada rekan2 relawan, khususnya pioneer PAY Suroboyo hingga terwujudnya entrePAYneurship.
Seusai aktifitas di sekolah, saya pastikan lokasi dan waktu acara via sms dan twitter. Dan akhirnya kepastian info saya dapat pukul 2 siang. Karena jaraknya lumayan dan khawatir kemacetan rutin sore hari di jalanan Surabaya, maka dengan terpaksa saya akhiri aktifitas lab di sekolah, agar saya tidak melewatkan moment berharga ini.
Benar adanya, setelah 60 menit perjalanan, tiba di lokasi kegiatan yang bertempat di ruang penataran UWK. Di sambit ( eh, disambut ) dengan panitia ber t-shirt biru muda dan tersemat logo lingkaran yang tak asing bagi saya. Logo itu dan wajah-wajahnya saya hafal betul, namun tak sedikit pula yang tak saya kenal. Wajah-wajah baru relawan yang ternyata mengiringi langkah sukses niat berbagi dan #BuatMerekaTersenyum membuat nostalgila saya tentang perjalanan PAY Suroboyo tak berhenti menghinggapi pikiran saya.
Acara dibuka dengan sambutan Sesepuh PAY Suroboyo (Cak Hendy - Owner bebek Pak Joss) yang menceritakan perjalanan komunitas ini. Mulai dari nobar HSD, N5M, KlinikGigi, GarageSale, Buber1001AnakYatim, Qurban, dan kini yang sedang closing Ceremony adalah EntrePAYneurship batch 1. Kedepan, impian memiliki rumah singgah untuk pembinaan lebih intens terkait skill dan tak lupa pula bekal rohani.
Dilanjutkan dengan sambutan dari Ibunda Benteng - Angger ( dua dari 8 finalis ), adalah seorang single fighter yang saya rasa ( dan hadirin lainnya ) sepakat, bahwa beliau adalah sosok seorang ibu panutan, yang berhasil mendidik anak-anaknya secara sederhana, namun luarbiasa.
Sementara sekian dulu ya, mau mluncur ke basecamp PAY Suroboyo sekaligus mencari inspirasi lanjutan EntrePAYneurship dan behind the scene (alias suka duka relawan, peserta, dan semuanya ).
**************** Bersambung dhisik yoo **********************
Semoga perjuangan dan semangat mbangun negeri dari wirausahawan muda nan peduli ini terus diridhoi oleh Allah dan menjadi aktifitas sporadis di bumi nusantara Indonesia kita ini. #MotivaSyam
[ Benarkah pendidikan nasional? ]
Sembari melipat sajadah seusai sholat isya, tiba-tiba pikiran saya terusik oleh cuplikan memory bedah buku sabtu sore kemarin.
Ya, memang bedah buku sore hari itu sangat sederhana, hanya digelar dalam sebuah ruangan seukuran ruang kelas kuliah yang disulap menjadi tempat diskusi panelis, bertemankan ac split dan sound system ala kadarnya.
Namun, hal yang menjadi istimewa adalah personil yang melengkapi sesi santai sore itu dan tentunya segelas kopi, menggambarkan judul buku yang kita diskusikan sore itu, "Sang Guru dan Secangkir Kopi" buah pikiran Andi Achdian yang juga ikut nimbrung sore itu.
Pengusik pikiran saya malam ini adalah closing statemen yang disampaikan bu Itje (sebagai moderator) tentang kotak-kotak, batasan, kasta, golongan dan klasifikasi sekolah di Indonesia.
Beliau menyampaikan dengan santai, walau saat itu terasa sekali aura keseriusan, keprihatinan, ketidakpuasan tentang statemen sekolah unggulan, sekolah favorit, sekolah idola yang tumbuhkembang di tengah-tengah kamus kehidupan masyarakat berpendidikan.
Saya masih ingat betul, dikala beliau dengan lugas memaparkan tentang fenomena dan dampak klasifikasi sekolah tersebut, saat itu juga hati dan pikiran saya sepakat meng-'iya'-kan paparan bu Itje. Di saat itu juga, pikiran saya melenggang jauh kepada anak-anak didik saya, dimana mereka sekolah di instansi khusus yatim piatu dan dhuafa, yang seharusnya juga menjadi tanggungjawab aparatur negara.
Kegelisahan ini semakin menjadi, ketika melihat fakta di masyarakat, masih banyak yang menomorsekiankan perlu dan pentingnya pendidikan. Andaipun cita-cita luhur pendahulu kita ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tercetak rapi dalam etalase Pembukaan UUD 1945, mengapa hingga kini yang terjadi malah kemerosotan nilai-nilai luhur yang telah diperjuangkan sejak hampir satu abad silam.
Layakkah pendidikan bangsa kita saat ini disebut "Pendidikan Nasional"? Kalau masih sering kita dapati jurang pemisah antara sekolah negeri dan swasta.
Layakkah pendidikan bangsa kita saat ini disebut "Education for All" seperti kutipan sambutan Kemdiknas 2 Mei kemarin? Kalau masih banyak kita jumpai fakta di masyarakat tentang kasta sekolah, sehingga anak-anak didik yang seharusnya punya hak yang sama, menjadi tersisihkan dan merasa berbeda hanya karena soal tradisi maupun (mohon maaf) urusan finansial.
Ah, ini hanya usikan pikiran, yang penting saat ini adalah bagaimana kita bisa mulai melangkah selaras untuk menata kembali puzzle misteri pendidikan Indonesia, demi terwujudnya generasi intan Indonesia.
*RefleksiDuaMei by #MotivaSyam