Showing posts with label sekolah. Show all posts
Showing posts with label sekolah. Show all posts

Sunday, December 14, 2014

Update Raport Online Surabaya

:: Just For Teacher at Surabaya -- UPDATE RAPORT ONLINE ::

Alhamdulillah, kegelisahan tenaga pendidik di Surabaya terjawab sudah, dengan adanya rilis layanan khusus raport online dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya, yakni Sistem Entry Semi Online. Terkait pelayanan khusus dinas pendidikan surabaya tentang inovasi raport ONLINE, sesuai yang dipublikasi pada laman webnya. Mulai diujicoba pada Kamis (11/12/2014) dan dinyatakan bisa diakses per Jumat (12/12/2014) pukul 00.00 WIB>.Namun sejak hari Jumat (12/12/2014) sore, saya pantau masih suspend, hingga hari Sabtu (13/12/2014) malam hanya bisa login namun gagal unduh template worksheet. Akhirnya, pagi ini (14/12/2014) sepulang dari mengantar ibu dari pasar, sudah bisa unduh template worksheetnya.

Serunya lagi, nilai yang sudah di entry (dimasukkan) sebelumnya melalui metode full online, juga muncul dalam template unduhan, sehingga bisa juga dijadikan arsip lokal (bentuk worksheet) oleh masing-masing guru, agar lebih mudah memetakan kondisi nilai tiap siswa. Saat ini, tinggal mencoba tahap entry (memasukkan) secara manual, dan yang pasti adalah mencoba mengunggah (upload) hasil template yang sudah terisi / update ke webnya. Dan terakhir adalah, memastikan di situs utama, bahwa nilainya apakah sudah bisa berubah sesuai hasil unggahan.

Tidak bisa dipungkiri, keinginan Surabaya untuk terus berinovasi, menjadi latar belakang adanya sistem raport online, yang berdampak pada kebingungan karena sosialisasi dan pelatihan masih kurang maksimal. Dan metode full online memang diharapkan untuk mengurangi manipulasi data nilai bagi oknum-oknum yang hanya ingin menjadikan instansinya terlihat 'wah', namun hanya hasil sulapan. Sehingga metode full online ini dibuat agar setiap tenaga pendidik melakukan entry nilai seusai mengajar.

Ide ini memang baik, namun yang menjadi tidak baik karena terlalu terburu-buru, seperti halnya, masih mepetnya tenggat waktu user online diberikan dengan waktu raportan, belum lagi jika koneksi internet terbatas maupun tidak stabil. Sehingga, pendapat beberapa guru yang mengusulkan agar sistem entry dibuat bertahap (semi online), dimulai dari entry secara offline (lokal), baru kemudian diunggah ke sistem onlinenya.

Dengan adanya 'jembatan' sistem semi online ini, saya berharap inovasi di Surabaya yang direncanakan diawal, berangsur-angsur dirasa tepat dan perlu oleh pihak-pihak yang sebelumnya merasa kerepotan dengan adanya sistem raport online yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Surabaya. Dan pastinya, sistem semi online ini merupakan wujud nyata bahwa masih ada itikad memanusiakan manusia, karena guru bukanlah robot yang hanya bisa diperintah untuk menjalankan instruksi dari pimpinan, Pendidikan adalah dinamisasi sebuah sistem yang mewakili kehidupan sosial di masyarakat, dimana nantinya akan membantu bangkitnya peradaban Indonesia yang manusiawi :)Namun akan lebih baik lagi jika menggunakan sistem yg sudah terpadu, sperti DAPODIKMEN yang juga sudah menyiapkan akses entry nilai Raport, namun masih kurang user friendly.

Sekian coretan akhir pekan yang tergores di akhir tahun, semoga Indonesia terus Berjaya.....

Silahkan mencoba link sistem "Raport Semi Online"

#SyamBelPendidikan by #MotivaSyam

Monday, May 6, 2013

Cangkir Kopi yang Mengusik

[ Benarkah pendidikan nasional? ]

Sembari melipat sajadah seusai sholat isya, tiba-tiba pikiran saya terusik oleh cuplikan memory bedah buku sabtu sore kemarin.

Ya, memang bedah buku sore hari itu sangat sederhana, hanya digelar dalam sebuah ruangan seukuran ruang kelas kuliah yang disulap menjadi tempat diskusi panelis, bertemankan ac split dan sound system ala kadarnya.

Namun, hal yang menjadi istimewa adalah  personil yang melengkapi sesi santai sore itu dan tentunya segelas kopi, menggambarkan judul buku yang kita diskusikan sore itu, "Sang Guru dan Secangkir Kopi" buah pikiran Andi Achdian yang juga ikut nimbrung sore itu.

Pengusik pikiran saya malam ini adalah closing statemen yang disampaikan bu Itje (sebagai moderator) tentang kotak-kotak, batasan, kasta, golongan dan klasifikasi sekolah di Indonesia.

Beliau menyampaikan dengan santai, walau saat itu terasa sekali aura keseriusan, keprihatinan, ketidakpuasan tentang statemen sekolah unggulan, sekolah favorit, sekolah idola yang tumbuhkembang di tengah-tengah kamus kehidupan masyarakat berpendidikan.

Saya masih ingat betul, dikala beliau dengan lugas memaparkan tentang fenomena dan dampak klasifikasi sekolah tersebut, saat itu juga hati dan pikiran saya sepakat meng-'iya'-kan paparan bu Itje. Di saat itu juga, pikiran saya melenggang jauh kepada anak-anak didik saya, dimana mereka sekolah di instansi khusus yatim piatu dan dhuafa, yang seharusnya juga menjadi tanggungjawab aparatur negara.

Kegelisahan ini semakin menjadi, ketika melihat fakta di masyarakat, masih banyak yang menomorsekiankan perlu dan pentingnya pendidikan. Andaipun cita-cita luhur pendahulu kita ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tercetak rapi dalam etalase Pembukaan UUD 1945, mengapa hingga kini yang terjadi malah kemerosotan nilai-nilai luhur yang telah diperjuangkan sejak hampir satu abad silam.

Layakkah pendidikan bangsa kita saat ini disebut "Pendidikan Nasional"? Kalau masih sering kita dapati jurang pemisah antara sekolah negeri dan swasta.

Layakkah pendidikan bangsa kita saat ini disebut "Education for All" seperti kutipan sambutan Kemdiknas 2 Mei kemarin? Kalau masih banyak kita jumpai fakta di masyarakat tentang kasta sekolah, sehingga anak-anak didik yang seharusnya punya hak yang sama, menjadi tersisihkan dan merasa berbeda hanya karena soal tradisi maupun (mohon maaf) urusan finansial.

Ah, ini hanya usikan pikiran, yang penting saat ini adalah bagaimana kita bisa mulai melangkah selaras untuk menata kembali puzzle misteri pendidikan Indonesia, demi terwujudnya generasi intan Indonesia.

*RefleksiDuaMei by #MotivaSyam