Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts

Wednesday, November 27, 2013

Pegangan Hidup (27112013)

Menjalani kehidupan tanpa ada kenangan,
Menjalani tantangan tanpa ada harapan,
Menjalani kenikmatan tanpa ada perasaan,

Hidup bukanlah sebuah ujian,
Hidup tak sekedar numpang lewat,
Tak pula dianggap sebagai hukuman.

Meraih mimpi jalani kenyataan,
Tak mungkin lari dari segala cobaan,
Yakini Dia kan selalu jadi pegangan.

~27112013~
#MotivaSyam

Saturday, September 28, 2013

Perjalanan Hati (2809013)

Semangat pagi rekan2...
Semoga akhir pekan ini dalam kondisi baik...

Syam ingin berbagi sedikit tentang Renungan Akhir Pekan :

---------------------
Dan muhasabah (evaluasi diri)ku menyimpulkan karena trlalu banyak alat elektronik, sehingga waktu untuk muqorobah (mendekatkan diri) pada Allah kurang, maka akan susah untuk Tazkiyatunnafs (membersihkan hati)

Sering kali kita berasumsi dan terus asumsi, hingga terkadang bahkan sering lupa bahwa yang menggerakkan sendi2, detak jantung, dan mengalirkan darah ini adalah Allah Sang Maha Kuasa...

Padahal jika kita sadari, sejatinya kita hanya diberi sebuah pensil, untuk menulisnya di selembar kertas, sedangkan penghapus dan bolpoin ada padaNya,

Ketika kita tulis rencana2 hidup kita, maka satu persatu akan dikoreksi oleh Allah, dinilai, dan terkadang dihapus untuk diberi pembetulan yang lebih baik dan tepat..

Hingga pada akhirnya kita bisa menjalani UjianNya dengan baik dan menerima raport yang menggembirakan...
#MotivaSyam

Semoga kita selalu diberi ketabahan dan kekuatan untuk bisa menjalankan amanahNya serta mendapat ridhoNya...

Monday, September 9, 2013

Perjalanan Batin menuju Kampung Halaman (09092013)

Dengan penuh semangat kupacu putaran roda
Dengan penuh antusias kumainkan kopling dan gas
Dengan harapan bisa sampai di sekolah sebelum jam ke 0 mulai

Namun apa daya kuasa tetap ada padaNya
Namun apa mau dikata, rencana tak selalu nyata
Namun apa boleh buat, bongkahan besi tua itu melintang di tengah jalan

Kecemasan itu mulai menyelimuti batin,
Bisakah sampai pada saat yang tepat...

Tapi, masih membekas dalam, tentang cerita perjuangan rekan2 IGI dalam buku Hope and Dream Memoar Guru.
Semoga diriku bisa menjadi bagian semangat juangnya.
Dan tak lupa terus berbakti pada orangtua tercinta...

Perjuangan itu, identik dengan Pengorbanan...
Indonesia, aku bangga jadi bagianmu...

Wednesday, July 31, 2013

Malu...


Terbaring letih dalam langkah hidupku
Tak tersadar aku telah melangkah jauh
Walau sisa jalanku juga masih panjang

Aku tetap saja tak tahu
Misteri hidup di jalanku
Hanyalah bayang ortu
Setia menemani hariku

Bosan terkadang menatap jauh
Sesekali ku terjatuh rapuh
Ya Allah, aku ini hambaMu
Tapi masih sering tidak tahu malu
Mencerca nikmat rahmatMu

~Surabayaku, 310713~
#MotivaSyam

Wednesday, June 26, 2013

Sandaran diri

Kutitipkan rindu dalam bisu,
menyusuri ceceran remah roti jejak kisah ini. ��

Hanya rintik hujan disini,
menemani langkah tanpa goyah.

Diri ini seorang pengembara,
mengitari bumi yg tak pasti.

Kadang berani namun menepi,
Kadang berhenti namun mengamati.

Sandarkan diri pada Illahi,
melepaskan segala ego yang ada di hati.

~ Surabayaku, 26062013 ~

Monday, May 27, 2013

[Monolog] URIP KUDU IKHLAS

[Monolog awal pekan bersama MotivaSyam]

Setelah seharian kemarin mencari ilmu, mulai dari Tausiyah hingga Cangkru'an Warung Kopi. Memang tak bisa dipungkiri jikalau Hearing/Listening/Mendengar/Menyimak adalah proses pembelajaran yang membosankan bagi sebagian orang, namun bisa sangat mengena bagi hamba-hamba Allah yang berfikir. Karena dengan metode inilah, kita bisa melatih kesabaran kita, konsentrasi kita dan respon sosial kita terhadap apa-apa yang disampaikan. Kadangkala bertentangan dengan prinsip, kadang sesuai, juga terkadang dirasa tidak penting, tapi lagi-lagi kita akan terus berusaha mendengarnya jika kita paham dengan yang dimaksud BELAJAR.

Berikut adalah cuplikan monolog antara His dan Syam.

His : Syam, Sejatine urip iku kudu IKHLAS.
Syam : Lha terus ikhlas iku carane piye, His?
His : Yo ora nduwe alasan iku jeneng e ikhlas.
Syam : Lho, bukan e urip iku kerono lillahi ta'ala?
His : Iyo, tapi yo kudu ati-ati noto niat. Mergo kabeh iku mbalik e soko niat.
Syam : Maksud e, wong jelas-jelas niat e kerono Gusti Allah !
His : Bener pancen e, urip iku lakune kudu kerono Gusti Allah. Tapi tetep ae, kudu ati-ati mergo syaitan iku slalu nyisip nang njero ati.
Syam : Lha tanda e urip wis gak ikhlas?
His : Mung Gusti Allah sing ngerti, tapi jelas e, nek awakdewe nglakoni opo ae sampe ngeroso wes kesel, ngeroso nduwe hak, ngeroso nduwe jasa, brarti lillahi ta'ala e perlu ditoto maneh.
Syam : Hmmmm........ (siap-siap sholat Ashar)

*mohon MAAF jika tata bahasanya amburadul ^__^

Saturday, May 25, 2013

Buah Pilihan

Ketika menanam sebuah pohon, sangat perlu merawatnya dengan memangkas daun yang kering, memupuk dan menyiraminya dengan sabar hingga tumbuhkembang dan berbuah. Adakalanya buah yang dipanen tak begitu bagus, adakalanya menjadi buah unggul. Siapapun pasti puas dan bangga mendapatkan hasil panen yang bagus, tapi yang lebih penting adalah bagaimana mensyukuri apapun hasil yang didapat, baik dalam kondisi yang tidak sesuai harapan, terlebih ketika hasilnya luarbiasa.

Menyikapi proses hidup pun baiknya demikian, tak perlu hiraukan hasil yang didapat seketika itu, tapi lebih utama adalah mensyukuri apapun keadaannya, dan terus berusaha melakukan lebih baik lagi setiap detiknya karena mencari ridho Allah.

#MotivaSyam

Selamat berjuang anak2ku,
Ujian bukan akhir segalanya, tetapi awal dari proses menyikapi hidup dengan bijak.
Nilai bukanlah penentu baik buruknya seseorang, tetapi keimanan dan manfaatlah yang lebih utama bagi seorang manusia

Sunday, May 19, 2013

Mutiara Hati si Bungsu (2)

Ini adalah lanjutan cerita dari Si Bungsu berhati mutiara. Selamat menikmati
++++++++++++++++++++++++++++++++++

Sang ayah begitu senang, karena ada yang merawat dan memperhatikannya, tak jarang pula, si bungsu menyempatkan di waktu liburnya, untuk mengajak sang ayah berjalan-jalan, walau hanya sekedar makan berdua di luar, sampai menikmati keindahan alam di daerah sekitar kota tinggal mereka sekarang. Rupanya perlakuan si bungsu ini menjadi kebanggaan dan kepuasan tersendiri dari sang ayah, karena di hari tuanya, beliau masih bisa bercanda tawa dengan satu diantara anak tersayangnya, walau beliau sudah menderita penyakit tua (pikun).

Berselang beberapa bulan setelah kepindahan sang ayah ke kontrakan si bungsu. Sang ayah melemah kondisi fisiknya, beliau malah sering sakit-sakitan, dan suka manja dengan si bungsu, terkadang marah-marah. Memang ini sifat manusiawi yang terjadi, karena siklus psikis manusia seperti lingkaran tak berujung, berawal dari lahir yang tidak bisa apa-apa dan hanya menangis dan tertawa, hingga bisa mulai tengkurap, merangkak, berlari, hingga bekerja keras, namun ketika menjalani umur tuanya, maka akan kembali menjadi seorang manusia penuh manja dan labilnya.

Si Bungsu dengan tetap penuh kesabaran merawat sang ayah, malahan si bungsu lebih menyempatkan diri memanja-manjakan sang ayah. Suatu malam, ketika si bungsu mengajak sang ayah ke pantai (dingin banget pastinya), untuk melihat rembulan yang sedang tersenyum lebar dengan sempurna. Tiba-tiba sang ayah memeluk si anak, dan menunjuk pada hamparan pasir, lautan yang luas , hingga berpaku pada bulan tersebut, tak peduli disana banyak orang yang ikut serta menikmati indahnya bulan purnama dan berkata :

"Nak, lihatlah Allah menciptakan alam dan seisinya tanpa hal yang sia-sia. Tanpa meminta pun, Allah memberi kita hamparan pasir yang luas, agar kita semua bisa berkumpul disini rame-rame, diciptakan pula rembulan yang begitu indah untuk menemani keramaian, dan luasnya samudera untuk mempercantik sang bulan. Yakinlah nak, hanya untuk Allah-lah kita bernafas, hanya untuk Allah-lah kita beraktifitas, hanya untuk Allah-lah kita berjuang (menjalani hidup), karena itu adalah amanah dari Allah untuk kita di dunia ini. Kau tinggal pilih, mana yang kau ingin, menjadi hamparan pasir dan laut yang begitu besar dan banyak, atau menjadi sebuah rembulan yang kecil (dibanding hamparan pasir dan lautan), sederhana (berbentuk bulat), dan unik (berubah bentuk sesuai umur/tanggalnya)".

Si Bungsu hanya bisa mendekap erat sang ayah, hingga tak terasa tangannya basah oleh derasnya air mata yang mengalir dari keempat mata dan berpadu hingga menyentuh bumi dengan penuh lantunan 'tasbih'. Tak tersadar, sang ayah tertidur pulas dalam senyum puasnya di pelukan si bungsu.

Suara ayam berkokok dari seberang jalan membangunkan si bungsu, hendak mengajak sang ayah menghadap Penguasa Alam Semesta (Allah ta'ala) alias sholat subuh, ternyata sang ayah sudah lebih dulu berangkat, karena malaikat maut tanpa ijin kepada si bungsu, telah menjemput sang ayah dengan senyum untuk mengajak sang ayah menghadap langsung. Saat itu tepat ulang tahun sang ayah di usianya yang ke 90 tahun lebih beberapa jam, dan malam itu kado terindah untuk sang ayah dari si bungsu. Hanya diam bisu yang ada dalam diri si bungsu, memutar ulang cerita dan kata-kata sang ayah semalam.

+++++++++++++ TO BE CONTINUED ++++++++++

Friday, May 17, 2013

[Kiranya]

Sahabat, sekiranya umur kita tinggal beberapa menit,
tak sampai berjumpa sang fajar esok hari,
tak sempat menyapa embun di dedaunan,

Akankah malam ini kita masih mengeluh
atas apa yang mungkin tak sesuai dengan keinginan hati ini?

Padahal, jikalau kita ingat, Allah lebih paham tentang hambaNya,
dan janjiNya pun pasti. Masihkah kita kufur padaNya?

Memang, kita hanya seorang anak manusia yang tak tahu apa2,
Yang sukanya mengeluh dan kecewa,
Yang sukanya lupa akan segala karuniaNya.

Sahabat, semoga kita masih diberi kesempatan untuk mengucap syukur,
memanjatkan hamdalah, dan berjumpa esok pagi,
dengan semangat yang lebih. #MotivaSyam

Thursday, May 16, 2013

Mutiara Hati si Bungsu (1)

Alkisah, pada suatu wilayah di suatu negeri nan jauh d sana, hiduplah sepasang suami istri yang bahagia dan terpandang, karena sikap mereka yang ramah dan juga dermawan, secara harta benda mereka berlimpah ruah. Hidup mereka sangat sederhana walau dikaruniai harta yang melimpah oleh Allah ta'ala. Mereka juga disegani oleh masyarakat sekitar

Bertahun-tahun setelah pernikahan mereka, belum mendapat amanah (anak) dari Allah, setelah 5 tahun berjalan, lahirlah si sulung dengan tidak ada kesulitan sama sekali. Betapa bahagianya pasangan suami istri tersebut, karena penantian anak pertamanya, titipan Ilahi yang tak terhingga akhirnya muncul juga di kehidupan mereka.

Si sulung mulai masuk SD dan lahirlah adek si sulung yang menggantikan si sulung menemani sang ibu d kala sulung sedang sekolah. Sulung menjadi anak yang rajin dan pandai di kelasnya, rangking 1 tak pernah lepas dari predikat dan halaman raportnya. Si Sulung juga sangat sayang dengan adeknya, dan membantu ibu menjaga adek saat ibu istirahat atau memasak.

Tak terasa, waktu berjalan cukup lama, hingga anak pertama beranjak dewasa dan bekerja merantau di luar pulau, sedangkan anak kedua baru mulai masuk SMP, selisih beberapa bulan, si bungsu lahir ke dunia dengan selamat, walau sempat sungsang dan harus operasi. Dimana perjuangan sang ibu dipertaruhkan demi sebuah kehidupan baru, anak bungsu tercintanya.

Setelah lulus SMP, adek si sulung diterima SMA dengan beasiswa di sekolah favorit dikotanya, karena prestasinya, kakak si bungsu pun baru beberapa bulan sekolah di bangku pertamanya di SMA, sudah d pilih menjadi siswa teladan dan pertukaran pelajar, sedang si bungsu menjadi anak satu-satunya yang di rumah menemani ayah dan ibu, menjadi pelipur lara di saat orang tua mereka kesepian.

Sepulang dari program pertukaran pelajar, adek si sulung pun langsung direkomendasikan oleh sekolahnya untuk meneruskan kuliah di universitas ternama di kota seberang, sesekali saja adek si sulung pulang kerumah jika libur panjang, karena kesibukannya di organisasi dan juga kebut kuliah supaya bisa segera meneruskan jenjang S2 yang diimpikannya di luar negeri.

Dan tak lama kemudian si bungsu sudah bersekolah di bangku SD, tak kalah dengan kakak sulungnya, si bungsu juga peraih predikat nomor satu dalam hal akademis maupun non akademisnya. Karena si bungsu juga sangat suka bergaul dengan masyarakat dan ringan tangan, sehingga banyak orang yang suka padanya. Hingga prestasinya mengantar ia pada beasiswa d jenjang SMP hingga kuliah.

Tak lama setelah si bungsu masuk SMP, kakak sulungnya menikah dengan wanita di pulau perantauannya, sehingga si sulung menetap di sana, dan adek si sulung berhasil meraih S1nya sesuai target, dan segera meneruskan jenjang S2nya di negeri impiannya.

Jelang Ujian Akhir SMPnya si bungsu, sang ibu jatuh sakit karena efek operasi saat melahirkan si bungsu. Tepat saat si bungsu naik kelas kedua di bangku SMAnya, ibunya wafat dan si bungsu sangat terpukul, secara dia anak paling dekat dengan ibunya dibanding kakak-kakaknya. Namun nasehat-nasehat ayahnya yang membuatnya kembali tenang dan semangat menjalani hidup.

Beberapa bulan sesudahnya, adek si sulung telah selesai menempuh pendidikan S2 di negeri seberang dan kembali k rumah, tak lama kemudian, hanya berselang beberapa pekan, adek si sulung jatuh hati pada juniornya saat kuliah S1 dulu. Sehingga lamaran dan prosesi pernikahan pun dijalani dengan lancar, karena ternyata si junior juga menaruh hati pada adek si sulung sejak dulu. Pasca menikah, adek si sulung mengikuti jejak kakaknya, yakni tinggal di rumah mertua yang kebetulan satu kota dengan tempat kuliahnya dulu.

Karena si bungsu mendapat beasiswa dari pemerintah setempat sampai jenjang kuliah, akhirnya si bungsu memilih perguruan tinggi yang tidak jauh dari rumahnya, meski lokasinya masih berada diluar kota asalnya, namun setidaknya masih bisa ditempuh untuk pulang pergi setiap harinya, supaya si bungsu bisa menemani ayahnya yang menghabiskan masa jelang pensiunnya sendirian karena sang ibu telah tiada.

Tak jarang si bungsu mengajak teman-temannya hanya untuk belajar bersama, atau mengerjakan tugas di rumahnya, agar si bungsu selalu bisa menjaga ayahnya sambil belajar bersama teman-teman. Singkat cerita, akhirnya si bungsu lulus dengan predikat cumlaude dan sebelum lulus sudah di terima kerja oleh perusahaan ternama d kota metropolitan.

Akhirnya dengan berat hati si bungsu mengambil tawaran perusahaan tersebut dan berpisah dengan ayahnya tercinta untuk kali pertamanya, walau begitu, si bungsu selalu menyempatkan dirinya pulang walau hanya sekedar membawa oleh-oleh untuk ayahnya yang seorang diri. Untungnya sang ayah merupakan orang yang disegani karena kehidupan di masa lalunya. Sehingga banyak warga sekitar yang empati untuk ikut serta merawat beliau.

Sampai pada suatu masa, sang ayah menderita penyakit tua, yakni sakit lupa (alias pikun), dan para tetangga mulai susah untuk membantu merawatnya. Sehingga sang anak berkumpul semua untuk musyawarah, sebagai kakak tertua, si sulung perlu membuka forumnya, dan mengawalinya dengan sebuah ide yang ditawarkan pada adek-adeknya.

"Adek-adek, karena ayah sudah tua, sudah saatnya ada yang merawatnya, selain itu, ayah juga punya harta yang melimpah, sehingga bagaimana jika seluruh harta warisnya akan diberikan pada siapa saja yang merawat ayah, mengingat kita semua tinggal jauh dari rumah ayah (karena mereka tinggal di perantauan)?" usul si sulung.

Kemudian mereka terdiam sejenak memikirkan usul kakak tertua mereka, tiba-tiba terdengar seseorang meminta ijin untuk menyampaikan usulnya, dengan suara sedikit ragu dan malu, karena suara itu ternyata keluar dari si bungsu yang tetap hormat pada kakak-kakaknya. Dan kakak-kakaknya pun menghargainya dan memperbolehkannya.

"Begini kakak-kakakku, aku mau merawat ayah, tapi aku takut perbuatanku ini tidak tulus, karena aku merawat ayah dengan mendapat imbalan harta warisnya kelak. Bagaimana kalau tidak sedikitpun harta waris ayah kelak yang akan diberikan pada siapapun yang merawatnya, karena Allah yang akan membalas tulus sang perawat itu nantinya, dan warisan itu tetap akan dibagi rata sesuai aturan Islam, dan sebagian kita wakafkan", usul si bungsu.

Dan kedua kakaknya pun hanya bisa mengangguk-angguk bersamaan pertanda mengerti maksud si bungsu. Akhirnya, si sulung mengambil alih pembicaraan kembali, dengan menawarkan usul si bungsu tadi, dan mereka bertiga setuju, karena dirasa itu keputusan paling bijak. Usai kesepakatan itu, si bungsu meminta satu hal lagi, dan lagi-lagi dibolehkan oleh kakak-kakaknya.

"Saya juga minta satu hal lagi kakak, karena saya masih terikat dinas dan bekerja di luar kota, biar ayah saya bawa ke tempat saya, karena kebetulan saya sudah punya kontrakan sendiri di dekat kantor, agar bisa fokus dengan kerja juga fokus merawat ayah, serta saya khawatir tergoda dengan harta waris ayah kalau saya tetap disini", pinta si bungsu.

Si sulung cuma bisa berkata, silahkan adekku, jika dirasa itu yang terbaik menurutmu, aku percaya, dan musyawarah itu selesai dengan dibawanya sang ayah ke tempat tinggal (kontrakan) si bungsu, dan rumah peninggalan orang tua beserta hartanya di titipkan pada tetangga kepercayaan keluarganya.

----------------------------- TO BE CONTINUED ------------------------------

NB : Kisah ini disusun dari kumpulan-kumpulan nasehat hidup yang disampaikan Kyai Ilyas (maaf tidak tahu nama lengkapnya) dalam tausiyah di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Jihad yang diasuh oleh Ust Imam Hambali, tentunya dengan tambahan bumbu-bumbu super, dan tidak mengurangi rasa (alur utama) dan aroma (amanah) dalam nasehat aslinya, hanya untuk tujuan supaya mudah dimengerti. Maaf jika ada kesalahan, kesamaan dan kekurangnyamanan dalam penyampaian. Semoga sepenggal kisah tak terarah ini dapat menjadi santapan rohani yang menyejukkan hati ^_^

By : #MotivaSyam

Friday, March 29, 2013

.: Duniaku Kini :.

Dear diary, aku ingin belajar menulis.
Dear boneka, aku ingin belajar bercerita.
#JamanDulu

Dear blog, aku ingin belajar mengetik.
Dear facebook, aku ingin belajar menyukai.
Dear twitter, aku ingin belajar meringkas.
Dear youtube, aku ingin belajar video.
Dear souncloud, aku ingin belajar audio.
#JamanSekarang


Sahabat, jaman ini sudah jauh berubah, dan itu sudah pasti.
Namun, sudahkah kita mengimbangi perubahan itu secara tepat?
Mampukah kita menjaga diri ini, sekitar kita dan negeri ini dari dahsyatnya gelombang peradaban teknologi multidimensi?

Jangan-jangan hanya karena kita malu dikatakan "ketinggalan jaman",
Akhirnya kita 'telan' semua teknologi yang ada tanpa 'dikunyah' terlebih dahulu.
Dampaknya 'lambung', 'jantung', dan seluruh aliran darah kita kaget hingga terkadang menjadi 'infeksi' bahkan 'terluka parah'.

Alangkah lebih santun ketika kita berusaha selektif terhadap 'suguhan-suguhan' baru yang begitu banyak ini, dan jikalau dirasa kurang baik, kesampingkan secara bijak agar tidak menyakiti perasaan si 'penyuguh'.

Kita akan jadi lebih merdeka ketika kita bisa menjadi diri sendiri, dengan berpegang teguh pada tali (agama) Allah, melalui Qur'an Hadist dan Sunnah RasulNya.

Sunday, March 17, 2013

Manual Book Kehidupan

Seringkali dalam menjalani kehidupan ini, kita antusias melangkah, namun terkadang kita terhenti sejenak karena lelah atau bahkan bingung.

Ya, itu wajar kawan !

Saat lelah menyambut, berarti kita harus sadar, Allah juga menciptakan diri ini tidak hanya jiwa yang selalu berkobar semangat, namun juga raga yang punya hak untuk istirahat.

Dan ketika bingung menghampiri, berarti kita sudah lalai, kalau Allah juga menciptakan diri ini dilengkapi dengan tuntunanNya (Qur'an & Hadist) yang bisa dijadikan pedoman.

InsyaAllah upaya kita selalu dalam ridho Allah ^__^